Sunday, May 16, 2004

Berlayar Dengan Pinisi

Perbedaan yang paling fundamental dari pembuatan perahu pinisi dengan technologi pembuatan kapal barat adalah, kalau orang barat buat perahu dari rangkanya dulu baru dindingnya, tapi pembuatan pinisi tradisionil dimulai dengan dinding dulu baru setelah itu rangkanya. Segala tehnik dan peraturan pembuatan perahu jaman dulu pernah dibukukan yang dinamakan "Jaya Langkara" menurut para tetua di Ara , buku itu pernah dipinjam orang Belanda, hingga kini belum dikembalikan. Sedangkan aturan peletakan papan papan teras dan aturan aturan dasar lainnya dalam pembuatan pinisi ini disusun oleh Ruling . Sampai sekarang dalam pembuatan perahu pinisi aturan Ruling inilah yang menjadi pedomannya. Disamping itu orang Bugis memiliki undang undang pelayaran dan perdagangan yang disusun oleh "Ammana Gappa" yang namanya sempat diabadikan pada pelayaran expedisi pinisi ke Madagaskar.

WARISAN KEJAYAAN MASA LAMPAU

Bumi nusantara yang luas, dikelilingi oleh laut, diapit oleh dua samudera besar, yakni Samudera Indonesia dan Samudera Pasific, telah melahirkan pelaut-pelaut yang tangguh. Lebih kurang 1 7.OOO puIau di Indonesia telah dihubungkan oleh pelaut-pelaut kita sejak zaman dulu, dengan berbagai macam perahu dan bermacam ukurannya pula. Sejarah kemudian membuktikan bahwa para pelaut Indonesia tidak hanya menguasai perairan dalam wilayah Indonesia, tapi juga melanglang hingga jauh, rnelampaui batas-batas negara, bahkan ikut rnewarnai percaturan kekuasaan di negeri orang. Pelaut-pelaut ulung Indonesia berlayar hingga ke Madagaskar, mengarungi Lautan Pasific, bahkan pulang dan pergi ke Mekah. Sedangkan bukti-bukti terbaru agaknya kita semua sudah sama-sama tahu. Ekspedisi Pinisi Nusantara yang berlayar ke Vancouver, Canada menernpuh perjalanan sejauh 10.000 K memakan waktu 62 hari, pada tahun 1986 yang lalu. Tahun 1987, ada lagi ekspedisi perahu Padewakang, "Hati Marige" ke Darwin, Australia, mengikuti rute klasik. Lalu Ekapedisi Ammanagappa ke Madagaskar. Terakhir pelayaran pinisi Damar Segara ke Jepang.

Dalam buku Pasang SurutKerajaan Merina Sejarah Sebuah Negara Yang Didirikan OIeh Perantau-perantau Indonesia di Madagaskar,

S. Tasrief, S.H., menyebutkan bahwa bangsa Indonesia pertama kali datang ke Madagaskar pada abad ke 2 dan ke 4. Gelombang kedua datang pada abad ke 10. Gelombang terakhir orang Indonesia ke Madagaskar terjadi pada abad ke l7,yakni orang-orang dari Kerajaan Sriwijaya. Bahkan, pendatang dan Indonesia tersebut menetap dan mendinkan sebuah kerajaan bernama Merina. Tentulah perjalanan orang-orang Indonesia melintasi samudera itu menggunakan perahu yang kuat. Boleh jadi perahu jenis pinisi. Awak perahu besar itu niscaya harus mempunyai kemampuan ilmu kelautan yang tinggi .Ini membuktikan bahwa pelaut pelaut Indonesia pastilah pelaut-pelaut ulung dan tangguh.



Yang menarik dalam buku tersebut adalah tanda tanya mengenai motivasi para pelaut Indonesia datang ke Madagaskar. Ape yang mereka cari sejauh itu? Besar dugaan bahwa mereka mencari daratan baru bukan karena tekanan politik atau ekonomi di tanah air, me-lainkan sernata-mata karena didorong oleh rasa ingin tahu daerah asing. Dengan kata lain, terdorong oleh naluri melaut.

Dan pelaut-pelaut Bugis menjadi pewaris setia dan semangat kelautan itu. Sejak dulu kala, mereka tak hanya berlayar untuk keperluan berdagang, tetapi juga untuk maksud-maksud yang lain, termasuk untuk menanamkan pengaruh, baik lewat budaya maupun politik.

Pada abad ke 14, misalnya, Kerajaan Kutai telah mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Persahabatan tersebut dimulai dengan kedatangan tamu penting dari Bugis. Bangsawan Bugis itu datang dengan perahu besar yang megah, merapat di hulu Sungai Mahakam. Kedatangan bangsawan Bugis ini adalah awal persahabatan antara Orang Bugis dengan kerajaan Kutai. Catatan sejarah kemudian menyebutkan bahwa akhir-nya orang-orang Bugis ikut mewarnai kekuasaan kerajaan Kutai.

Pada abad ke 17, Kerajaan Gowa sedang kuat-kuatnya. Kerajaan mi dipimpin oleh seorang pelaut ulung, Somba Tomaparisi' Kallonna. Karena letaknya yang strategis, Gowa menempatkan dirinya sebagai pintu gerbang armada niaga dan armada perang yang datang dan negeri Barat, seperti Eropa, Persia, India, Tiongkok dan sebagainya. Waktu itu, Kerajaan Gowa disegani, baik di Nusantara, maupun negara lain. Goa memiliki armada dagang dan armada perang yang kuat. Bahkan, Goa memiliki kapal cepat yang mampu mengontrol laIu lintas pelayaran Nusantara. Masih ada catatan sejarah yang menunjukkan peran besar pelaut Indonesia, khususnya dari negeri asal pinisi. Di Semenanjung Malaka, pada awal abad ke 18, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Kesultanan (Kerajaan Riau Lingga) dengan Bendahara Johor. Juga dikarenakan invasi orang-orang Minangkabau.Peristiwa ini mengundang campur tangan bangsawan Bugis dan Luwuk dan Sulawesi Selatan. Setelah sengketa tersebut reda, bangsawan dari Bugis diberi jabatan Yang Dipertuan Muda Johor, Riau Lingga dan Pahang. Gelar ini satu tingkat di bawah Yang Dipertuan Besar. Jabatan tersebut diberikan secara turun termurun.

Di Pulau Penyengat, dimana pusat pemerintahan Riau Lingga pernah berdiri, orang Bugis pun punya andil dalam kebudayaan Melayu. Raja Ali Haji yang melahirkan "Gurindam Dua Belas" adalah pujangga Riau lama yang berasal dari Bugis, putra dari Raja Achmad. Ia bangga sekali dengan keturunannya dan sangat menentang setiap perubahan atas adat istiadat Melayu. Di Pontianak, Ketapang, Kalimantan Barat, Orang Bugis sangat kuat pengaruhnya. Dan catatan-catatan sejarah itu dapat dibuktikan bahwa pelaut-pelaut Bugis terbilang sangat disegani dan cukup berpengaruh, bukan saja di samudera luas, melainkan juga di berbagai daerah, sekaligus berbagai sektor kehidupan. Dan itu sangat dimungkinkan oleh peran armada laut mereka yang hebat. Berbilang abad ketangguhan itu tak terkikis oleh ombak tak hancur oleh hempasan gelombang. Bahkan sampai kini, dengan menggalakkan negara Maritim kembali , armada laut tradisionil tetap diperlukan untuk Indonesia yang sedang berReformasi ini.

Indonesia Media/Kar497


leaving skool pinisi at 9:36 PM [comment]

{xoxo}



Friday, April 23, 2004

Sawerigading Dan Ayam Jago

Syahdan, disebuah hulu sungai Saqdan - Sulawesi Selatan - hiduplah seorang anak manusia yang bernama Sawerigading. Dikisahkan, bahwa ayah Sawerigading memiliki dua orang istri, yang pertama dari bangsa manusia dan istri kedua dari bangsa jin.

Dari istri yang pertama lahirlah sepasang anak kembar. Satunya berjenis kelamin laki-laki yang kelak bernama Sawerigading. Dan satunya lagi berjenis kelamin perempuan. Sejak kecil sepasang anak kembar ini dipisahkan oleh orang tuanya tanpa alasan yang jelas.

Ringkas cerita Sawerigading kecil telah tumbuh menjadi dewasa. Keinginan untuk memiliki pendamping hidup mulai bersemi dalam jiwanya. Sampai suatu saat ia bertemu dengan saudara kembarnya. Rasa cinta, dan keinginan untuk saling memiliki tumbuh begitu saja saat pertama kali Sawerigading menatap paras cantik saudara kembarnya. Karena sekian lama dipisahkan, mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka berdua adalah saudara kandung.

Ayahnya yang mengetahui bah wa Sawerigading telah jatuh cinta kepada saudara kandungnya sendiri tentu saja tinggal diam. Ia segera memerintahkan Sawerigading untuk menghadap kepadanya. “Ketahuilah anakku, bahwa mengharapkan pandamping hidup untuk saling menentramkan hati bukanlah hal yang keliru. Tapi merupakan satu pantangan terbesar dalam adat istiadat kita, jika menjadikan saudara kandung sendiri sebagai istri. Supaya kamu bisa mendapatkan pendamping hidup yang tidak menyalahi adat istiadat kita, besok pagi-pagi benar, berangkatlah kamu ke hulu sungai untuk menebang kayu Balandae. Dengan kayu itu buatlah kapal untuk membawa kamu berlayar ke negeri cina untuk meminang sepupumu yang bernama Cudai.

Esok paginya, saat matahari baru saja nampak di ufuk, berangkatlah ia menuju hulu sungai untuk menebang kayu Balandae, sebagaimana yang perintahkan oleh ayahnya. Sebenarnya ia tidak terlalu setuju dengan perintah ayahnya, akan tetapi semua itu dilakukannya karena takut dengan kemurkaan ayahnya.

Ditengah perasaannya yang dirundung duka karena tidak diperbolehkan mempersunting saudara kandungnya, rupanya pohon Balandae yang ditembangnya tidak juga tumbang, padahal pangkal dan batang pohon tersebut telah terpisah. Perasaan sawerigading semakin tidak menentu. Kebingungan dan kekesalan silih berganti berkecamuk dalam batinnya.

Sebagai seorang saudara kembar, perang batin dalam diri Sawerigading turut dirasakan oleh saudara kembarnya. Tanpa sepengetahuan Sawerigading, berangkatlah saudara kembarnya untuk menembang pohon Balandae. Ajaib, dalam satu kali tebasan, pohon yang memang sudah terpisah pangkal dan batangnya itu langsung tumbang ke tanah.

Keesokan harinya, betapa terkejutnya Sawerigading saat melihat bahwa pohon Balandae yang tak kunjung bisa ditumbangkannya kini telah berubah menjadi perahu layar yang siap untuk mengarungi samudera. Tapi ia tidak ambil pusing untuk mengetahui siapa yang telah membantunya membuat kapal. Baginya kapal telah siap dide pan mata, tidak ada gunanya memikirkan siapa yang membuat, satu hal yang pasti bahwa ia harus segera pulang untuk menyiapkan perbekalan untuk dibawa berlayar ke negeri cina.

Hari pemberangkatanpun tiba. Sawerigading segera berlayar mengarungi samudera luas. Berbagai rintangan dihadapinya dalam perjalanan. Dari gangguan alam seperti badai dan ombak sampai gangguan manusia yang berniat merompak kapal yang ditumpangi Sawerigading.

Berkat izin yang kuasa, segala gangguan dan rintangan yang didapatinya dalam perjalanan bisa dihadapi dengan baik oleh Sawerigading. Dan sampailah setelah berlayar beberapa lama, sampailah Sawerigading ke kerajaan cina.

“Angin apa gerangan yang membuat anakda jauh-jauh meninggalkan tanah kelahiran menuju daratan cina ?” tanya pamannya saat Sawerigading menghadap.

“Jika jodoh bisa datang tanpa dicari, mungkin anakda sampai saat ini masih menginjak tanah yang sama dengan tanah tempat anakda dilahirkan, tetapi karena jodoh ha rus dijemput, maka maksud kedatangan anakda kesini adalah untuk meminang putri paman raja.” ucap sawerigading mengutarakan maksud kedatangannya.

Mengetahui bahwa maksud kedatangan Sawerigading, adalah untuk melamar putrinya. Raja terdiam sejenak. Terlihat ia memikirkan sesuatu, sedangkan Saweringading hanya bisa menanti dengan perasaan cemas. Akhirnya Raja memerintahkan untuk memanggil Cudai, putrinya, untuk segera menghadap.

“Dari tanah Sulawesi yang jauh, Sawerigading yang merupakan saudara sepupumu berniat untuk menjalin tali kekeluargaan yang lebih dekat lagi dengan kita yang ada di negeri cina. Ayahanda tahu, bahwa dalam hidupmu kamu pasti memiliki mimpi, begitupun halnya dengan Sawerigading. Dan ketahuilah bahwa dunia ini terlalu luas, manusia tidak akan mampu untuk merealisasikan mimpinya seorang diri. Maukah kamu membantu Sawerigading menggapai mimpinya dan sekaligus membiarkan Sawerigading melumuri tangannya dengan usaha untuk membantumu mencapai mimpi ?” tanya Raja kepada Cudai.

Cudai yang saat itu bersimpuh di samping ayahnya berusaha untuk semakin menundukkan pandangannya. Ia kelihatan malu-malu.

“Ayahanda, bagi seorang putri seperti anakda, keinginan ayahanda juga merupakan keinginan anakda, karena anakda yakin bahwa apapun yang ayahanda inginkan pasti demi kebahagian anakda.” Ucap Cudai dengan nada suara malu-malu.

Mendengar bahwa Cudai bersedia untuk dipersunting oleh Sawerigading, perasaan raja sangat bahagia, karena ia tidak ingin membuat hati keponakannya kecewa, pun ia tidak ingin memaksakan keinginan kepada putri yang dicintainya. Tapi lebih dari itu semua perasaan Sawerigading lebih berbahagia, karena lamarannya diterima.

Pesta pernikahanpun digelar dengan meriah. Seluruh rakyat ikut merasakan kebahagian kedua mempelai yang juga berarti semakin mempererat hubungan kekeluargaan antara keluarga Sawerigading di Sulawesi dan keluarga Cudai di negeri Cina.

Setelah bertahun-tahun menetap di negeri cina, akhirnya pasangan suami-istri tersebut dikarunia seorang anak yang diberi nama La Galigo. Tapi saat La Galigo masih bayi. Sawerigading memutuskan untuk kembali ketanah kelahirannya, Sulawesi.

La Galigo kini mulai tumbuh tidak hanya menjadi pemuda yang gagah perkasa tapi juga cerdik cendekia dan bijak bestari. Saat La Galigo dewasa meminta izin untuk menemui ayahnya di tanah Sulawesi, ia dititipi oleh ibunya seekor ayam jago.

Ditanah Sulawesi, berkembang permainan adu ayam. Diantara mereka, terdapat seekor ayam aduan yang tak tertandingi. Bahkan beberapa ayam yang menjadi lawannya harus terkelapar mati. Pemilik ayam tersebut tidak lain adalah Sawerigading.

Suatu saat, sampailah La Galigo ke tanah sulawesi. Saat melihat ada orang yang sedang mengadu ayam, La Galigo segera menghampiri tempat tersebut. Sawerigading yang melihat ayam jago di tangan La Galigo kemudian berkata dengan suara lantang. “Wahai anak muda, bawalah kemari ayam yang ada ditanganmu itu. Biarkan ia merasakan tajamnya taji ayam jago milikku.”

Mendengar kalimat tersebut, La Galigo hanya tersenyum. Ia berniat memberi pelajaran pada orang yang terdengar angkuh tersebut. Ia pun memenuhi permintaan Sawerigading. Tidak berapa lama, kedua ayam tersebut terlibat dalam perkelahian yang sengit. Sampai suatu ketika ayam jago milik Sawerigading berlari meninggalkan arena aduan, lantaran tidak kuat lagi merasakan sakit.

Mengetahui ayam milik Sawerigading kalah, betapa terperanjatnya orang-orang yang menyaksikan kejadian itu, terlebih lagi Sawerigading. “Wahai anak muda, dari mana gerangan ayammu berasal ?” tanya Sawerigading. Kali ini nada bicaranya tidak lagi menyiratkan kesombongan, bahkan terkesan ada perasaan malu bercampur keheranan.

“Ayam saya berasal dari negeri Cina. Saya ke Sulawesi untuk mencari ayah saya.” Jelas La Galigo. Sawerigading kembali terkejut. Batinnya berkecamuk hebat. Pikirannya tiba-tiba melayang kepada anak dan istrinya yang ditinggalkan di negeri Cina.

“Siapa gerangan nama ayahmu itu anak muda ?” tanya Sawerigading lagi. Ia semakin tidak sabar untuk mengetahui identitas lawan bicaranya.

“Nama saya La Galigo, Ayah saya bernama Sawerigading dan Ibu saya bernama Cudai.” Jelas La Galigo.

“Tidak sia-sia perjalananmu, menempuh terjangan badai, mengarungi samudera luas dan menghadapi gelombang bahaya, karena ayah yang kamu cari adalah orang yang sekarang berdiri didepanmu. Sayalah Sawerigading yang kamu cari itu.” Ucap Sawerigading.

Mereka berduapun saling berpelukan. Setelah pertemuan itu, La Galigo dan Sawerigading sepakat untuk mengajak Cudai tinggal bersama mereka di tanah Sulawesi.


Catatan:
Legenda dari perjalanan hidup sawerigading ini dipercaya menjadi asal mula permainan adu ayam di Kab. Enrekang Sulawesi Selatan. Bahkan ada satu permainan anak kecil di Sulawesi Selatan yang disebut menebak ayam berupa mengenal suara l awan permainan dengan menanyakan asal ayam.

Cerita ini juga bisa anda baca melalui situs penulislepas.com

leaving skool pinisi at 11:12 AM [comment]

{xoxo}



Thursday, April 22, 2004

Lapung Dare - dare

Penulis: zulkifli



Di sebuah hutan yang ditengahnya mengalir sungai yang besar, hiduplah dua ekor binatang yang saling bersahabat. Mereka hidup rukun dan damai. Binatang yang pertama adalah seekor monyet (Lapung Dare-dare) dan binatang yang kedua adalah seekor kura-kura (Lapung Kura). Walau Lapung Kura selalu di curangi oleh Lapung Dare-dare, tidak satu kalipun terbersit dihatinya untuk marah apalagi sampai berniat untuk membalas dendam. Lapung Kura sadar, bahwa dirinya hanyalah binatang yang hanya bisa berjalan lambat, sehingga kalaupun dendam, itu hanya akan menambah penderitaan batin saja.

“Saya memang tidak kuasa untuk mengubah kebiasaan Lapung Dare-dare berdasarkan cara pandang saya, maka biarlah saya yang mengubah cara pandang tentang kebiasaan Lapung Dare.” Batin Lapung Kura.

Suatu Sore, Lapung Dare-dare mengunjungi rumah Lapung Kura untuk mengajaknya jalan-jalan menyusuri pinggaran sungai yang membelah hutan tempat mereka tinggal.

Berjalanlah mereka berdua menikm ati pemandangan hutan yang asri. “Lihat pohon pisang itu Lapung Kura !” teriak Lapung Dare-dare sambil menunjuk kesebuah pohon pisang.

“Wah, bagus betul pohon pisang itu.” Ucap Lapung Kura gembira.

“Bagaimana kalau pohon pisang itu kita bawa pulang saja.” Usul Lapung Dare-dare. Lapung Kura hanya mengangguk. Dalam sekejap, mereka berdua saling bahu membahu mencabut sebuah tunas pohon pisang. Tidak berapa lama tunas pisang itu pun sudah berpisah dengan tanah.

“Bagaimana kita membawanya pulang ?” tanya Lapung Dare-dare.

“Kita gotong berdua saja, jadi pohonnya akan terasa ringan.” Usul Lapung Kura.

“Bagaimana kalau nanti ada yang menghadang kita ? lalu merampas pohon pisang kita.” Ujar Lapung Dare-dare. “Karena kamu jalannya lambat, biar kamu saja yang menggotong, sedangkan saya akan berjalan didepanmu untuk melihat keadaan.” Lapung Dare-dare mulai mengeluarkan akal bulusnya. Sebenarnya ia hanya malas untuk menggotong tunas pisang tersebut. L apung Kura tidak mempersoalkan, ia pun mengangguk setuju.

Dengan langkah tertatih, Lapung Kura berjalan semakin lambat membawa tunas pisang tersebut, sedangkan Lapung Dare yang berjalan cepat, mengisi waktunya dengan tidur-tiduran di halaman rumah Lapung kura sambil menunggu tunas pisang yang dibawa Lapung Kura.

Saat Lapung Kura sampai di rumahnya dengan membawa tunas pisang tersebut, Lapung Dare – dare pun menyambutnya dengan senyuman. “Pasti perjalananmu lancar, karena semua musuh yang akan merintangi jalanmu sudah saya amankan.” Ucap Lapung Dare-dare berbangga. Tapi Lapung Kura tidak terlalu menanggapinya ia hanya bertanya “Dimana pohon ini akan kita tanam ?”

Setelah berfikir sejenak Lapung Dare-dare menjawab “Sebaiknya kita bagi dua aja pohon pisang ini. Saya mendapat setengah bagian keatas, sedangkan kamu setengah bagian kebawah.” Lapung Kura mengiyakan, tanpa banyak komentar.

Lapung Dare-dare segera membawa potongan bagiannya pulang kerumah. Dalam hati ia berkata “rasain kamu Lapung Kura, saya telah membuat pembagian yang tidak adil. Bukankah bagian pohon pisang yang berbuah adalah bagian atasnya, tidak bagian bawah seperti yang telah diambil Lapung Kura.”

Hari terus berganti, dan setelah beberapa lama, pohon pisang milik Lapung Kura sudah mulai berbuah, sedangkan pohon milik Lapung Dare-dare tidak tumbuh karena tidak lagi memiliki akar. Betapa kagetnya Lapung Dare saat melihat pohon pisang milik Lapung Kura.

“Kasihan benar dirimu wahai sahabatku Lapung Kura. Kamu memiliki pohon pisang yang berbuah lebat, tapi kamu tidak mampu merasakan buahnya, hanya karena kamu tidak bisa memanjat. Untuk menunjukkan rasa solidaritasku, biarlah saya membantumu memetiknya.” Bujuk Lapung Dare-dare. Lagi-lagi Lapung Kura mengiyakan. Tidak sekalipun terlintas dalam benaknya untuk berburuk sangka kepada Lapung Dare-dare.

Culas sudah menjadi watak Lapung Dare-dare. Ia pun kembali menghianati kepercayaan yang dib erikan Lapung Kura kepadanya. Setibanya diatas Lapung Dare-dare berteriak kepada Lapung Kura “Saya akan menyicipi pisang ini dulu, agar saya tidak salah memberimu pisang sepat.”

“Terserah apa katamu sahabat.” Ujar Lapung Kura dari bawah.

Dengan sigapnya Lapung Dare-dare memakan pisang itu diatas pohon, sampai pisang yang ada tidak tersisa lagi. Ia pun bergegas turun. Dengan santainya ia berkata “beruntunglah kamu Lapung Kura, karena pisangmu ternyata manis semua.” Lapung Dare-dare pun segera berlalu pulang ke rumahnya tanpa merasa bersalah.

Sadar telah dicurangi, betapa sedihnya hati Lapung Kura. Ia pun segera berjalan-jalan ke tepian sungai untuk menghilangkan kegalauan hatinya.

“Apa yang membuat hatimu bersedih kawanku ?” Sebuah suara menghentikan lamunan Lapung Kura. Saat dipandangi, rupanya suara itu berasal dari Lapung Sikkuyu (kepiting) yang kebetulan lewat di depan Lapung Kura.

Lapung Kura menceritakan semua kejadian yang menimpany a barusan. “Tapi biarlah, saya tidak mau merusak persahabatan dengan Lapung Dare-dare hanya karena persoalan pisang” ucap Lapung Kura lirih.
Dalam hati Lapung Sikkuyu merasa kasihan dengan Lapung Kura. Tapi ia sadar bahwa Lapung Kura tidak akan membalas dendam kepada Lapung Dare-dare. Jika dibiarkan begini terus maka Lapung Dare-dare akan semakin bertambah sikap curangnya. Biarlah ia yang memberikan pelajaran kepada lapung Dare-dare.

“Diseberang sungai banyak terdapat pohon pisang, ajaklah sahabatmu Lapung Dare-dare untuk melihat-lihat kesana.” Ujar Lapung Sikkuyu.

“Terimakasih, pasti Lapung Dare-dare gembira mendengarnya. Saya akan segera mengajaknya.” Ucap Lapung Kura.

Keesokan harinya berangkatlah Lapung Kura dan Lapung Dare-dare menyeberangi sungai menggunakan perahu. Diam-diam, rupanya Lapung Sikkuyu telah menggunakan capitnya untuk melubangi perahu yang ditumpangi Lapung Dare-dare dan Lapung Kura. Karamlah perahu itu ditengah sungai. Karena tida k bisa berenang Lapung Dare-dare akhirnya menemui ajalnya di tengah sungai, sedangkan Lapung Kura, tetap selamat karena ia mampu berenang.

Kini Lapung Kura bisa hidup tenang tanpa khwatir lagi untuk dicurangi oleh Lapung Dare-dare.



catatan

Tulisan ini, bisa Anda baca melalui situs penulislepas.com



leaving skool pinisi at 11:58 PM [comment]

{xoxo}



Pinisi
Kami hanyalah kumpulan kayu yang tak bertuah. Tapi kami punya tekad membara. Mengarungi samudera luas. Menghadapi riak gelombang. Membelah nusantara. Semua itu kami lakukan untuk mengumpulkan kembali sisa sisa yang mungkin tertinggal dari jejak tradisi suku yang ada di sulawesi-selatan. Milis ini hadir untuk anda yang ingin menggiatkan budaya tulis tentang seluruh kebudayaan sulawesi-selatan. Agar kebudayaan leluhur, bisa menjadi satu kebanggaan dan bagian dari kebudayaan nusantara. Milis ini juga menjadi ajang bagi untuk saling berdialektika bertukar informasi tentang kebudayaan leluhur. Pinisi.. Maju terus.. hadapi riak dan terjangan badai...
"Kualleangi Tallanga na Toaliya"


Ikutan Pinisi

Powered by TagBoard Message Board
Name

URL or Email

Messages(smilies)


cybersastra
zoelkifli


sulsel makassar pare-pare selayar jeneponto takalar bone sinjai soppeng wajo toraja luwu utara jika anda berniat menambahkan link, silahkan kirim email ke milispinisi@yahoo.com.sg